Dorongan Terbaru Trump untuk Greenland: Dari Pembicaraan Akuisisi hingga Potensi Kekuatan

6

Presiden Donald Trump sekali lagi secara agresif mengupayakan akuisisi Greenland, yang melampaui upaya sebelumnya menjadi ancaman langsung berupa intervensi militer. Fokus baru ini mengikuti apa yang digambarkan oleh banyak pengamat sebagai pola tindakan kebijakan luar negeri yang semakin tegas, termasuk intervensi kontroversial di Venezuela dan penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Dari Kepentingan Ekonomi hingga Tekanan Militer

Apa yang awalnya merupakan proposal yang tampaknya aneh pada tahun 2019 – menawarkan untuk membeli Greenland dari Denmark – telah berkembang menjadi sikap yang lebih mengancam. Trump telah berulang kali mengutip “keamanan nasional” dan “kepentingan ekonomi” sebagai pembenaran, dengan alasan bahwa pulau yang berlokasi strategis ini sangat penting bagi AS. Alasannya sekarang mencakup klaim yang tidak berdasar tentang kehadiran angkatan laut Rusia dan Tiongkok di perairan Greenland, yang menggambarkan situasi tersebut sebagai ancaman langsung terhadap dominasi Amerika.

Pergeseran ini signifikan. Tawaran sebelumnya mendapat penolakan cepat dari Kopenhagen. Kini, dengan pemerintahan Trump yang menunjukkan kesediaannya untuk mengabaikan norma-norma internasional – sebagaimana dibuktikan dalam operasi Venezuela – kemungkinan aneksasi paksa menjadi lebih besar. Ini bukan sekadar spekulasi; Trump secara terbuka menyarankan tindakan militer terhadap Kolombia terkait kartel narkoba dan memperingatkan Iran akan konsekuensi berat jika menekan protes, yang mengindikasikan adanya tren intervensionisme sepihak yang lebih luas.

Preseden Sejarah: Kepulauan Virgin AS

Situasi ini mencerminkan kesamaan sejarah yang kurang diketahui: pembelian Hindia Barat Denmark (sekarang Kepulauan Virgin AS) pada tahun 1917. Didorong oleh kekhawatiran bahwa Jerman mungkin akan merebut pulau-pulau tersebut untuk mengganggu pelayaran melalui Terusan Panama, pemerintahan Presiden Woodrow Wilson menekan Denmark agar menjual wilayah tersebut seharga $25 juta. Meskipun konteksnya berbeda (saat itu, jalur pelayaran strategis; sekarang, potensi posisi militer), prinsip dasarnya tetap sama: negara adidaya menegaskan dominasinya atas negara yang lebih kecil dengan kedok keamanan nasional.

Perbandingan historis ini sangat penting karena menunjukkan bahwa perluasan wilayah AS – bahkan melalui cara-cara yang tampak legal – selalu didorong oleh perhitungan strategis dan ekonomi. Dorongan yang dilakukan saat ini terhadap Greenland sesuai dengan pola ini, meskipun potensi kekuatan militer secara langsung meningkatkan risikonya.

Implikasi dan Pandangan ke Depan

Meningkatnya retorika dan tindakan agresif di sekitar Greenland merupakan indikasi dari tren yang lebih luas: kesediaan Trump untuk mengabaikan hukum dan norma internasional demi mengejar kepentingan AS. Pendekatan ini tidak hanya memperburuk hubungan dengan sekutu seperti Denmark tetapi juga menjadi preseden berbahaya bagi intervensi di masa depan.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan kritis mengenai keterbatasan kekuatan Amerika dan potensi destabilisasi lebih lanjut di kawasan Arktik. Ketika perubahan iklim membuka rute pelayaran baru dan peluang ekstraksi sumber daya, nilai strategis Greenland akan semakin meningkat, menjadikannya titik nyala persaingan geopolitik. Beberapa bulan mendatang akan menentukan apakah ancaman Trump hanya berupa retorika atau meningkat menjadi tindakan nyata, yang berpotensi membentuk kembali keseimbangan kekuatan di Atlantik Utara.