AI, Hak Cipta, dan Masa Depan Karya Kreatif

24

Maraknya kecerdasan buatan memaksa kita untuk memperhitungkan undang-undang hak cipta, sehingga berdampak pada semua orang yang membuat atau mengonsumsi konten digital. Dari foto dan postingan blog hingga musik dan kode, kebanyakan orang adalah pemegang hak cipta, disadari atau tidak. Alat AI generatif – chatbots, pembuat gambar, dan banyak lagi – melanggar norma-norma yang ada, memicu perselisihan hukum dan memaksa para pembuat konten untuk menghadapi kenyataan baru di mana karya mereka dapat direplikasi, di-remix, dan berpotensi dieksploitasi tanpa izin.

Inti masalahnya sederhana: model AI memerlukan data dalam jumlah besar untuk dipelajari. Perusahaan teknologi secara agresif memanfaatkan internet untuk mendapatkan konten berkualitas tinggi, seringkali tanpa perjanjian lisensi atau atribusi yang jelas, untuk meningkatkan kinerja AI mereka. Hal ini menyebabkan meningkatnya tuntutan hukum, termasuk kasus-kasus penting seperti The New York Times v. OpenAI, di mana penerbit menuduh adanya penggunaan tidak sah atas laporan mereka dalam pelatihan AI. Ziff Davis, perusahaan induk CNET, juga ikut serta dalam tuntutan hukum, menuduh pelanggaran hak cipta oleh OpenAI.

Lanskap hukum masih suram. Meskipun undang-undang hak cipta secara tradisional melindungi karya asli, pertanyaan apakah konten yang dihasilkan AI dapat dilindungi hak cipta masih belum terselesaikan. Kantor Hak Cipta AS telah memutuskan bahwa materi yang murni dihasilkan oleh AI tidak memenuhi syarat untuk dilindungi, namun konten yang diedit atau dimanipulasi menggunakan alat AI mungkin memenuhi syarat, asalkan pengguna mengungkapkan penggunaan teknologi tersebut.

Konflik yang lebih besar berpusat pada apakah perusahaan AI dapat secara legal menggunakan materi berhak cipta untuk melatih model mereka. Beberapa perusahaan berpendapat bahwa hal ini termasuk dalam “penggunaan wajar”, sebuah doktrin hukum yang mengizinkan penggunaan terbatas atas materi berhak cipta untuk tujuan transformatif. Google dan OpenAI telah melobi pengecualian ini, dengan alasan bahwa hal ini penting untuk keberlanjutan inovasi dan bahkan masalah keamanan nasional. Namun, para pencipta khawatir bahwa hal ini akan memberikan izin kepada raksasa teknologi untuk mengeksploitasi karya mereka, sehingga merusak fondasi ekonomi industri kreatif.

Beberapa kasus pengadilan baru-baru ini sedang menguji batas-batas ini. Anthropic dan Meta sama-sama mendapatkan keputusan yang menguntungkan mereka, dengan alasan bahwa penggunaan buku berhak cipta oleh mereka cukup “transformatif” untuk memenuhi syarat sebagai penggunaan wajar. Namun, hasil ini tidak diterima secara universal, dengan lebih dari 400 penulis, aktor, dan sutradara baru-baru ini mendesak para pembuat kebijakan untuk menolak pengecualian penggunaan wajar untuk AI. Perdebatan ini bukan hanya mengenai teknis hukum; ini tentang nilai fundamental dari kerja kreatif.

Pada akhirnya, masa depan hak cipta di era AI akan bergantung pada bagaimana kita menyeimbangkan inovasi dan hak pencipta. Sistem yang ada saat ini mengalami tekanan karena banyaknya teknologi baru, dan para pembuat kebijakan harus memutuskan apakah undang-undang kekayaan intelektual terutama bertujuan untuk efisiensi ekonomi atau untuk mendorong dan menghargai kreativitas manusia. Keputusan yang diambil saat ini tidak hanya akan membentuk lanskap hukum tetapi juga masa depan ekspresi artistik dan kelangsungan ekonomi karya kreatif.