Perang sebagai Tontonan: Bagaimana AS Memperlakukan Konflik Seperti Video Game

16

Investigasi AS baru-baru ini terhadap pemboman sebuah sekolah dasar di Minab, Iran, menegaskan apa yang sudah jelas: sebuah rudal Tomahawk Amerika menghancurkan gedung tersebut, menewaskan sekitar 175 orang, yang sebagian besar adalah anak-anak. The New York Times menerbitkan rekaman video terverifikasi yang menunjukkan dampaknya, termasuk mural seorang anak dengan kupu-kupu di tengah reruntuhan dan suara mengerikan dari orang tua yang berduka. Namun, Gedung Putih menanggapinya bukan dengan penyesalan namun dengan sebuah video yang menggambarkan perang Iran sebagai permainan Nintendo, meremehkan kematian dan kehancuran demi interaksi online.

Ini bukanlah kejadian yang terisolasi. Pemerintahan Trump secara konsisten menampilkan perang sebagai hiburan, merilis video propaganda yang menyela pemboman nyata dengan klip dari video game kekerasan, film perang, dan pidato yang diiringi musik bombastis. Bagi Gedung Putih ini, perang bukanlah neraka; ini menyenangkan. Pendekatan ini bukanlah suatu kebetulan—hal ini mencerminkan perubahan mendalam dalam cara pemerintah memandang dan mengkomunikasikan konflik.

Erosi Gravitasi Moral

Obsesi pemerintah terhadap validasi online telah menciptakan lingkaran umpan balik (feedback loop) di mana keputusan kebijakan didorong oleh sudut pandang media sosial dan bukan pertimbangan strategis atau etis. Mereka memperlakukan perang bukan sebagai persoalan hidup dan mati, namun sebagai konten untuk dikonsumsi dan dibagikan. Kehancuran USAID tahun lalu, yang mungkin telah menyebabkan sekitar 800.000 kematian yang dapat dicegah, merupakan contoh dari hal ini: keputusan tersebut didasarkan pada ejekan “limbah virus” dan bukan penilaian kebijakan.

Elon Musk, yang pengaruhnya terhadap pemerintahan tidak dapat disangkal, bercanda tentang kehancuran lembaga tersebut, dan memprioritaskan penghargaan online daripada nyawa manusia. Pola pikir ini juga meluas ke operasi militer, sebagaimana dibuktikan dengan pemecatan Menteri Pertahanan Pete Hegseth terhadap pengacara militer yang peduli dengan korban sipil, dan menyebut mereka “jagoff” yang menghalangi “kematian.”

Strategi komunikasi pemerintah bukanlah tentang persuasi; ini tentang memperkuat keyakinan yang ada dalam basisnya. Gulungan mendesis masa perang tidak bertujuan untuk meyakinkan orang-orang yang skeptis; mereka ada untuk menghibur dan memvalidasi mereka yang sudah ikut serta, menggantikan refleksi moral dengan pesta pora kolektif dalam gambaran kekerasan.

Realitas Baudrillardian tentang Peperangan Modern

Pendekatan ini bukanlah hal baru, namun intensitasnya belum pernah terjadi sebelumnya. Seperti yang dicatat oleh pakar Nick Cull, pemerintahan sebelumnya setidaknya berpura-pura menyesali tindakan militer. Kini, pemerintah AS secara terbuka memperlakukan konflik seperti tim sepak bola sekolah menengah atas. Hal ini mencerminkan kritik Jean Baudrillard pada tahun 1991 terhadap Perang Teluk, di mana tontonan peperangan yang disiarkan televisi menutupi dampaknya di dunia nyata.

Baudrillard berpendapat bahwa perang tersebut merupakan fiksi media, sebuah narasi yang dikurasi dan tidak memiliki banyak kemiripan dengan kenyataan. Saat ini, dengan media sosial yang tidak terkendali dan upaya keterlibatan yang tiada henti, fiksi telah menjadi dominan. Batasan antara kebenaran dan kinerja tidak jelas, karena para pengambil kebijakan lebih mementingkan apa yang terlihat di dunia maya dibandingkan dengan hasil sebenarnya.

Membunuh Tanpa Pikiran

Pengeboman di sekolah Minab kemungkinan besar merupakan kecelakaan yang menyasar karena intelijen yang sudah ketinggalan zaman, dan diperburuk dengan pembongkaran kantor penilaian korban sipil oleh pemerintah. Hal ini menggambarkan konsekuensi nyata dari memprioritaskan tontonan dibandingkan substansi. Namun, pemerintah terus mempromosikan narasinya tanpa melakukan refleksi diri, seperti yang ditunjukkan oleh penolakan presiden terhadap insiden tersebut dan ketidakpeduliannya terhadap korban jiwa.

Desisan masa perang tidak berfungsi sebagai propaganda tetapi sebagai bentuk pengecualian kolektif. Kejahatan di Minab dan di tempat lain dibayangi oleh sensasi “pembunuhan karena sakit”, yang membuat penderitaan manusia menjadi sebuah tontonan yang menarik untuk dijadikan meme. Pemerintah dan pendukungnya tidak hanya menipu diri mereka sendiri; mereka secara aktif berusaha menghilangkan pertimbangan serius mengenai konsekuensinya.

Dalam lingkungan ini, kekejaman hanya menjadi sebuah renungan, pembunuhan tidak dilakukan dengan hati nurani yang bersih namun tanpa kesadaran sama sekali. Upaya validasi online telah menjangkiti Gedung Putih di semua tingkatan, mengubah kebijakan menjadi kinerja, dan mengurangi pertaruhan di dunia nyata menjadi hanya sekedar mencari likes.

Ini adalah jenis perang baru: perang yang dilancarkan bukan demi keuntungan strategis, melainkan demi lonjakan dopamin dalam keterlibatan di media sosial. Konsekuensinya sangat mematikan, namun di dunia yang menganggap perhatian sebagai hal yang penting, nyawa manusia tidak begitu berarti dibandingkan momen viral.