Pendukung Investor untuk Startup “Proentropik”: Bisnis yang Dibangun untuk Berkembang dalam Kekacauan

17

Antonio Gracias, pendiri Valor Equity Partners, mempopulerkan konsep startup “proentropis” – bisnis yang dirancang untuk tidak hanya bertahan, namun juga mendapatkan manfaat dari meningkatnya ketidakstabilan global. Pergeseran pemikiran ini terjadi seiring dengan perubahan iklim, ketegangan geopolitik, dan perubahan teknologi yang pesat yang mempercepat laju gangguan di berbagai industri.

Bangkitnya Proentropi

Gracias menciptakan istilah proentropic untuk menggambarkan perusahaan yang secara aktif mempersiapkan dan mengeksploitasi kondisi kacau. Idenya berasal dari hukum kedua termodinamika, yang menyatakan bahwa semua sistem secara alami bergerak menuju ketidakteraturan (entropi). Alih-alih melawan tren yang tak terelakkan ini, bisnis proentropik malah menerimanya.

Ia pertama kali mulai mempertimbangkan kerangka kerja ini pada tahun 2013, dengan harapan bahwa deglobalisasi dan pergeseran teknologi akan mengubah struktur kekuasaan di seluruh dunia. Kini, dengan dunia yang cenderung menuju kekacauan akibat pertumbuhan populasi dan gangguan teknologi, kebutuhan akan kesiapsiagaan seperti itu menjadi semakin mendesak.

Seperti Apa Bentuk Startup Proentropik?

Ini bukan sekadar perusahaan yang berada di pasar yang stabil, namun juga perusahaan yang memprediksi ketidakstabilan di masa depan dan membangun strategi untuk mengatasinya. Sifat utamanya adalah “pemikiran probabilistik” — sebuah asumsi bahwa segala sesuatu dapat berubah kapan saja. Ini berarti memperhitungkan skenario ekstrem, dan mengambil posisi untuk mengambil keuntungan dari skenario tersebut.

SpaceX sering disebut sebagai contoh: SpaceX tidak hanya sukses di pasar luar angkasa saat ini, namun juga dirancang untuk beradaptasi terhadap perubahan teknologi, geopolitik, atau bahkan peristiwa bencana yang tidak dapat diprediksi.

Beyond Survival: Keberanian dan Peluang Moral

Gracias percaya bahwa kesuksesan di era ini tidak hanya membutuhkan kemampuan beradaptasi, tetapi juga “keberanian moral” – kemauan untuk menantang narasi yang ada. Dia menunjuk pada titik temu antara iklim, energi, dan perangkat keras, dan menyebut Tesla sebagai model untuk mengintegrasikan perangkat lunak dan perangkat keras secara efektif.

Ia menolak ketakutan umum bahwa AI akan menyebabkan hilangnya lapangan kerja dan kerusuhan secara luas. Sebaliknya, ia melihat munculnya alat-alat low-code/no-code yang memberdayakan lebih banyak orang untuk memulai perusahaan, sehingga meningkatkan produktivitas dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pada akhirnya, ia percaya bahwa masa depan tidak ditentukan sebelumnya: “Kita akan memutuskan apakah kita memiliki masa depan utopis atau masa depan distopia.”

Munculnya pemikiran “proentropik” menandakan semakin besarnya kesadaran bahwa kelangsungan hidup di abad ke-21 bergantung pada pembangunan bisnis yang tidak hanya tangguh, namun secara fundamental dirancang untuk berkembang dalam ketidakpastian. Ini bukan lagi tentang menghindari gangguan; ini tentang memanfaatkannya.