Lembah Seni Editorial yang Luar Biasa: Saat Majalah Beralih ke AI

7

Profil CEO OpenAI Sam Altman baru-baru ini di The New Yorker telah memicu perdebatan yang lebih dari sekadar estetika. Ilustrasi yang menyertainya, dibuat oleh seniman media campuran David Szauder, menampilkan sekelompok wajah yang bergerak tanpa tubuh dan melayang di sekitar Altman. Meskipun karya tersebut secara eksplisit diberi label “Dihasilkan menggunakan AI”, kehadirannya di salah satu majalah paling bergengsi di dunia menimbulkan pertanyaan mendalam tentang masa depan niat kreatif, nilai kerja manusia, dan “pembesaran” media modern.

Proses vs. Produk

Berbeda dengan “slop” yang tidak masuk akal yang sering dikaitkan dengan AI generatif—gambar yang dikirim dengan teks dan mudah digunakan yang membanjiri media sosial—pendekatan Szauder sangat teknis dan disengaja. Dia tidak hanya mengetikkan prompt dan menerima hasil pertama. Sebaliknya, prosesnya melibatkan:

  • Pengodean Khusus: Mengembangkan perangkat lunaknya sendiri untuk menghasilkan gambar berdasarkan bahan arsip tertentu.
  • Alur Kerja Hibrid: Menggabungkan pengeditan klasik (seperti Photoshop) dengan penyempurnaan berbasis AI.
  • Iterasi Manusia: Menelusuri puluhan sketsa dan koreksi manual untuk membentuk ekspresi wajah dan pencahayaan.

Szauder mempertahankan filosofi penting: “Saya sangat percaya bahwa bahkan di era AI, sebuah gambar harus terlebih dahulu dibentuk dalam pikiran manusia, bukan dalam mesin.”

Namun, meski dengan tingkat keterlibatan manusia yang tinggi, produk akhirnya tetap mendapat kritik. Kritikus berpendapat bahwa ketergantungan pada “keanehan” yang melekat pada AI—kualitas yang meresahkan dan sedikit mengecewakan—menjadi sebuah penopang. Daripada menggunakan seni untuk memberikan perspektif baru, gambar tersebut hanya mengandalkan getaran AI untuk menceritakan kisahnya, sehingga berpotensi kehilangan komentar gaya yang lebih dalam.

Ancaman Eksistensial terhadap Ilustrator

Penerapan AI oleh publikasi besar terjadi di tengah kondisi ekonomi yang sangat sulit bagi seniman lepas. Industri ini saat ini menghadapi beberapa tekanan sistemik:

  1. Perpindahan Pekerjaan: Saat redaksi berupaya memangkas biaya, anggaran ilustrasi seringkali menjadi pihak pertama yang dipangkas, dan AI diposisikan sebagai alternatif yang lebih murah.
  2. Devaluasi Kepengarangan: Berdasarkan panduan Kantor Hak Cipta AS saat ini, gambar yang dibuat murni melalui petunjuk teks tidak dapat dilindungi hak cipta karena tidak memiliki “kepenulisan manusia”. Hal ini menciptakan kekosongan hukum dan profesional bagi para pencipta.
  3. Kerapuhan Ekonomi: Ilustrasi lepas adalah bidang yang sangat terkotak-kotak, sehingga hampir mustahil bagi seniman untuk berserikat atau melakukan tawar-menawar secara kolektif melawan penurunan tarif dan gangguan teknologi.

Mengapa Hal Ini Penting bagi Integritas Media

Ketika publikasi seperti The New Yorker mengintegrasikan AI generatif, ia melakukan lebih dari sekadar mengubah bahasa visualnya; hal ini berisiko menormalisasi teknologi yang dianggap banyak orang sebagai antitesis seni rupa.

Ada perbedaan mendasar antara mata seorang seniman—yang diinformasikan oleh selera dan niat seumur hidup—dan keluaran suatu algoritma. Seorang seniman menerjemahkan sebuah visi menjadi kenyataan nyata melalui proses yang ketat; AI hanya menafsirkan perintah. Ketika “proses” dihilangkan, hubungan antara niat pembuat dan pengalaman pemirsa menjadi lemah.

Meskipun karya Szauder merupakan upaya canggih untuk menggunakan AI sebagai alat, bukan pengganti, namun langkah tersebut masih merupakan “lereng yang licin”. Dengan memasukkan alat-alat ini ke dalam editorial, bahkan dengan cara yang terkendali dan artistik, media-media bergengsi mungkin secara tidak sengaja melegitimasi media yang mengancam penghidupan para profesional yang mereka pekerjakan.

Kesimpulan
Penggunaan AI dalam ilustrasi editorial kelas atas mewakili jalan tengah yang kompleks: AI bukanlah seni “kotoran” atau seni tradisional. Meskipun hal ini menawarkan cara-cara baru untuk mengekspresikan ide-ide kompleks, hal ini juga berisiko merendahkan nilai proses manusia dan mempercepat ketidakstabilan ekonomi profesi kreatif.